Rabu, 04 Maret 2015














Bako
Penulis, Darman Moenir
Penerbit, Balai Pustaka
Cetakan 1-1983, Cetakan 2-1994, dan Cetakan 3-2000
102 halaman

Roman-roman terbitan Balai Pustaka sebelum perang dikenal orang sebagai banyak memasalahkan perlawanan terhadap adat istiadat yang mengungkung. Ini tampak dalam roman-roman Siti Nurbaya dan Salah Asuhan.

Darman Moenir, seorang penulis muda kita, dalam roman “Bako” ini juga menulis tentang pemberontakan terhadap adat dengan segi-segi permasalahan yang lain. Di samping itucerita roman ini terasa ditulis dan bercerita pada kita dengan intens dan menarik. Lagipula roman ini salah satu pemenang utama sayembara penulisan roman yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1980.

Kilasan pemberontakan terhadap adat terlihat jelas dalam dialog, ayah, umi dan Man yang dapat dibuka  pada halaman 29, “Dan paling tidak direlakan masyarakat kampung adalah perkawinan ayahku, agaknya. Pada titik-terakhir, mereka menginginkan agar ayahku kawin lagi dengan seorang perempuan yang berasal dari kampong mereka sendiri.”
“Man, ketika kau berusia lima tahun, aku tidak dapat menghindar dari anjuran untuk kawin lagi. Umi dan Bak Tuokau pun berkeras-keras menyuruhku. Alasan mereka adalah untuk mencoreng arang yang melekat di kening.”
“Maksud Ayah?”
“Ya, karena aku sebagai salah seorang anak-kampung mereka, tapi sudah melangkahi cara-cara perkawinan yang ada. Hal ini baru bias ditebus jikalau aku sudah menikah dengan salah perempuan di sini”

Bagi peminat novel ini dapat menghubngi Balai Pustaka Jakarta dan buku ini salah satu dari koleksi perpustakaan pribadi H Al Bazar Arif.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar