Ketika penulis menyaksikan
upacara hari pendidikan nasional (Hardiknas) tanggal 2 Mei 2012 melalui layar
televisi, penulis begitu kagum dan bangga, betapa besarnya perhatian masyarakat
dan pemerintah terhadap dunia pendidikan kita. Akan tetapi, dibalik itu semua,
penulis merasa sedih terhadap pelaksanaan dan hasil pendidikan di tanah air
tercinta. Dan
yang lebih memprihatinkan ialah, “Betapa beratnya beban psikologis pak guru, ibu guru, serta para
pendidik di tanah
air”. Pembaca mungkin bertanya kenapa para pendidik kita memikul beban mental
yang begitu berat? Jawabnya sederhana, yaitu tidak sesuai antara teori dengan
kenyataan. Amat dalam maknanya, amat vital peranannya dan amat fatal bila
mengabaikannya.
Para pendidik di sekolah
atau di lembaga pendidikan lainnya baik formal atau non formal dengan segala
daya dan upaya mengajarkan dan menanamkan nilai-nilai luhur yang mulia dan
terpuji kepada anak didik mereka seperti kasih sayang, kesabaran, tata krama pergaulan, kejujuran,
pakaian yang sopan. Tentunya ini mengacu pada tujuan pendidikan nasional kita yaitu, “Membentuk manusia susila
yang cakap, warga Negara yang demokratis, serta bertanggung jawab terhadap
kesejahteraan bangsa dan Negara”.
Namun ironisnya
nilai-nilai luhur yang diberikan oleh guru di sekolah amat bertolak belakang
dengan kenyataan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, sehingga apa yang
diberikan oleh para pendidik di sekolah hilang tanpa bekas. Beberapa contoh:
disekolah, guru
mengajarkan muridnya tata krama dan sopan santun dalam berbicara yaitu bahasa yang sopan,
bicara lembut, tidak kasar. Kenyataan dalam masyarakat orang seenaknya bicara
kasar, kotor, dan jorok seperti “sialan lo, tai lo, anjing lo, babi lo, gue
tonjok lo”. Contoh lain disekolah guru mengajarkan kepada murid sifat sabar,
menahan diri, kenyataan dalam masyarakat semua kegiatan berakhir ricuh, konser
musik ricuh,
sepakbola ricuh, pembagian sembako ricuh, penertiban pedagang kaki lima ricuh
bahkan rapat-rapat di lembaga tinggi Negara berakhir ricuh, perkelahian
antar kelompok, bahkan antar penjaga
keamanan Negara pun terjadi bentrok yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa.
Contoh lain di
sekolah pendidik mengajar anak didik dengan sifat jujur, kenyataan dalam
masyarakat sifat jujur ini sulit ditemukan, ini terbukti dengan banyaknya kasus
penipuan, kebohongan, manipulasi, korupsi dalam kehidupan sehari-hari.
Kenyataan ini diperkuat dengan banyaknya tokoh-tokoh masyarakat,
pemimpin-pemimpin, pejabat Negara anggota dewan perwakilan yang terhormat, jaksa
dan hakim yang mulia, seperti mentri, gubernur, bupati, walikota yang
terpidana, terdakwa, tersangka, bahkan ada yang buron (DPO) karena mereka
terlibat kasus korupsi dan ini pertanda hilangnya nilai kejujuran di kalangan
pemimpin. Contoh lain di sekolah, guru mengajarkan anak didiknya untuk
berpakaian sopan dan tidak membuka aurat, namun pada kenyataan dalam masyarakat
banyak ditemukan tontonan yang berbau pornografi, porno aksi baik melalui
televisi, internet, juga media massa lainnya.
Melengkapi contoh-contoh
diatas penulis pernah jadi dosen mata kuliah kewarganegaraan di perguruan
tinggi negeri dan
swasta di Jakarta. Penulis menyampaikan bahwa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kita harus
mendahulukan kepentingan umum dari pada kepentingan individu dan kelompok.
Selesai memberi kuliah, ketika akan pulang, seorang mahasiswa berbisik kepada
penulis. “Pak apa yang bapak katakan tadi sekarang adanya di atas kertas pak?
Ditengah masyarakat, mana ada orang yang mendahulukan kepentingan umum daripada
kepentingan pribadi atau golongan. Orang sekarang sebelum berbuat, mereka akan
berfikir dan bertanya mereka dapat apa, dan mereka kebagian berapa”. Nah inilah
realita yang terjadi di tengah masyarakat dan ini pula lah yang menjadi beban bagi para guru, mereka
harus menghadapi kenyataan pahit dan bertolak belakang dengan apa yang mereka
sampaikan didepan anak didik mereka, semoga para guru dan para pendidik tidak
berputus asa menghadapi kenyataan ini dan senantiasa teguh dalam menunaikan
tugas-tugas mulia yang mereka emban. Amin. (H. Albazar M Arif, dari Manjadi Hamba Yang Peduli, YPMUI 2014, halaman 59
Tidak ada komentar:
Posting Komentar