Rabu, 11 Maret 2015

BEBAN PSIKOLOGIS GURU


Ketika penulis menyaksikan upacara hari pendidikan nasional (Hardiknas) tanggal 2 Mei 2012 melalui layar televisi, penulis begitu kagum dan bangga, betapa besarnya perhatian masyarakat dan pemerintah terhadap dunia pendidikan kita. Akan tetapi, dibalik itu semua, penulis merasa sedih terhadap pelaksanaan dan hasil pendidikan di tanah air tercinta. Dan yang lebih memprihatinkan ialah,Betapa beratnya beban psikologis pak guru, ibu guru, serta para pendidik di tanah air”. Pembaca mungkin bertanya kenapa para pendidik kita memikul beban mental yang begitu berat? Jawabnya sederhana, yaitu tidak sesuai antara teori dengan kenyataan. Amat dalam maknanya, amat vital peranannya dan amat fatal bila mengabaikannya.
Para pendidik di sekolah atau di lembaga pendidikan lainnya baik formal atau non formal dengan segala daya dan upaya mengajarkan dan menanamkan nilai-nilai luhur yang mulia dan terpuji kepada anak didik mereka seperti kasih sayang, kesabaran, tata krama pergaulan, kejujuran, pakaian yang sopan. Tentunya ini mengacu pada tujuan pendidikan nasional kita yaitu,Membentuk manusia susila yang cakap, warga Negara yang demokratis, serta bertanggung jawab terhadap kesejahteraan bangsa dan Negara”.
Namun ironisnya nilai-nilai luhur yang diberikan oleh guru di sekolah amat bertolak belakang dengan kenyataan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, sehingga apa yang diberikan oleh para pendidik di sekolah hilang tanpa bekas. Beberapa contoh: disekolah, guru mengajarkan muridnya tata krama dan sopan santun dalam berbicara yaitu bahasa yang sopan, bicara lembut, tidak kasar. Kenyataan dalam masyarakat orang seenaknya bicara kasar, kotor, dan jorok seperti “sialan lo, tai lo, anjing lo, babi lo, gue tonjok lo”. Contoh lain disekolah guru mengajarkan kepada murid sifat sabar, menahan diri, kenyataan dalam masyarakat semua kegiatan berakhir ricuh, konser musik ricuh, sepakbola ricuh, pembagian sembako ricuh, penertiban pedagang kaki lima ricuh bahkan rapat-rapat di lembaga tinggi Negara berakhir ricuh, perkelahian antar  kelompok, bahkan antar penjaga keamanan Negara pun terjadi bentrok yang menyebabkan jatuhnya  korban jiwa.
Contoh lain di sekolah pendidik mengajar anak didik dengan sifat jujur, kenyataan dalam masyarakat sifat jujur ini sulit ditemukan, ini terbukti dengan banyaknya kasus penipuan, kebohongan, manipulasi, korupsi dalam kehidupan sehari-hari. Kenyataan ini diperkuat dengan banyaknya tokoh-tokoh masyarakat, pemimpin-pemimpin, pejabat Negara anggota dewan perwakilan yang terhormat, jaksa dan hakim yang mulia, seperti mentri, gubernur, bupati, walikota yang terpidana, terdakwa, tersangka, bahkan ada yang buron (DPO) karena mereka terlibat kasus korupsi dan ini pertanda hilangnya nilai kejujuran di kalangan pemimpin. Contoh lain di sekolah, guru mengajarkan anak didiknya untuk berpakaian sopan dan tidak membuka aurat, namun pada kenyataan dalam masyarakat banyak ditemukan tontonan yang berbau pornografi, porno aksi baik melalui televisi, internet, juga media massa lainnya.
Melengkapi contoh-contoh diatas penulis pernah jadi dosen mata kuliah kewarganegaraan di perguruan tinggi negeri dan swasta di Jakarta. Penulis menyampaikan bahwa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kita harus mendahulukan kepentingan umum dari pada kepentingan individu dan kelompok. Selesai memberi kuliah, ketika akan pulang, seorang mahasiswa berbisik kepada penulis. “Pak apa yang bapak katakan tadi sekarang adanya di atas kertas pak? Ditengah masyarakat, mana ada orang yang mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi atau golongan. Orang sekarang sebelum berbuat, mereka akan berfikir dan bertanya mereka dapat apa, dan mereka kebagian berapa”. Nah inilah realita yang terjadi di tengah masyarakat dan ini pula lah yang menjadi beban bagi para guru, mereka harus menghadapi kenyataan pahit dan bertolak belakang dengan apa yang mereka sampaikan didepan anak didik mereka, semoga para guru dan para pendidik tidak berputus asa menghadapi kenyataan ini dan senantiasa teguh dalam menunaikan tugas-tugas mulia yang mereka emban. Amin. (H. Albazar M Arif, dari Manjadi Hamba Yang Peduli, YPMUI 2014, halaman 59












Tidak ada komentar:

Posting Komentar