Pengalaman Kecil
Musibah banjir 15
tahun yang lalu melanda Jabodetabek, telah membawa kerusakan berbagai sarana
dan prasarana serta penghidupan masyarakat. Desa Sukmajaya di Bekasi, salah
satu diantaranya yang mengalamai kerusakan permumahan, lingkungan, pertanian
dan usaha yang dijalankan oleh masyarakat. Ketika itu Yayasan Bina Masyarakat
Sejahtera (BMS), telah menjalankan program Pemberdayaan Keluarga Anak jalanan,
dengan dua intervensi, yakni peningkatan ekonomi keluarga dan pengembalian anak
jalanan ke sekolah. Sukmajaya merupakan areal kerja program ini.
Intervensi awal
penanggulangan akibat banjir adalah layanan kesehatan dan bantuan sembako.
Kedua intervensi ini memberikan pemahaman yang dalam tentang kebutuhan riil
mereka dan pada sisi lan diketahui sejumlah tokoh masyarakat yang “tulus”
membantu sesama. Dialog yang intensif
dengan tokoh masyarakat ini membuahkan kebutuhan untuk perbaikan perumahan yang
telah rusak. Masyarakat menentukan urutan warga yang akan memperoleh perbaikan
perumahan. Sementara BMS melakukan pendekatan kepada pihak mitra untuk ikut
membantu.
Habitat Humanity
International tertarik, dengan pendekatan perbaikan perumahan dengan pijakan
“membangun kemandirian”. Pola awal yang ditempuh, adalah penyediaan bahan
bangunan yang diperlukan dan masyarakat secara bersama membangun nya. Ini
ditempuh hanya untuk 5 unit rumah, guna meyakinkan masyarakat bahwa dengan
“gotong royong” mampu mengurangi persoalan perumahan. Penerima manfaat didorong
untuk menabung dan akumulasi tabungan ini digunakan untuk membangun unit
perumahan berikutnya.
Dana yang diperoleh
untuk membangun tiap unit rumah didapat kan dari perusahaan, sekitar Rp. 7,5
juta per unit. Perusahaan telah
memberikan komitmen untuk membantu 40 unit rumah. Dengan cara ini, jumlah rumah yang dapat dibangun
semakin banyak. Kontribusi masyarakat
dengan “gotong royong” dan kegiatan volunteer perusahaan ke lapangan,
mengurangi biaya yang diperlukan untuk tiap rumah. Pada sisi lain, mereka
semakin erat kebersamaan dalam menyelesaikan
persoalan di sekitar mereka.
Contoh kedua adalah
penguatan Sanggar Belajar Anak di daerah Pedongkelan, Pulo Gadung, Jakarta
Timur. Dengan dukungan ILO, BMS telah
melaksanakan program pengurangan anak jalanan, melalui penguatan kapasitas
orang tua dan bimbingan pada anak jalanan. Penguatan kapasitas orang tua
ditempuh melalui penyadaran tentang hak anak dalam pendidikan dan pembekalan
ketrampilan produktif bagi tambahan pendapatan keluarga. Program bagi anak anak
adalah motivasi kembali ke sekolah, persiapan untuk mengikuti ujian kesetaraan
paket A, B dan C. Bagi anak anak dengan usia 15
tahun keatas, diberikan pembekalan ketrampilan sesuai dengan minatnya.
Pada giliran berikutnya adalah memberikan pembelajaran bagi mereka untuk
merintis usaha dengan dukungan dana dari program.
Sangar Belajar Anak,
sebuah sarana penting. Disini anak-anak diajak ketemu secara reguler, belajar,
ngaji dan membicarakan hambatan nya, termasuk menyegarkan motivasinya. Di
tempat ini juga ajang berlangsungnya pertemuan orang tua, membekali dengan
kepercayaan diri, semangat dan pembekalan ketrampilan. Kegiatan di sanggar ini dikomunikasikan
dengan media. Media TV memberikan dukungan perbaikan sarana, sementara kunjungan
Menteri Pendidikan ke lokasi, menambah semangat anak dan keluarga untuk
berubah. Dukungan lanjutan bagi sanggar ini berdatangan.
Concern Perusahaan
Perusahaah yang ikut
serta dalam kedua contoh diatas, dapat
disebut sebuah kepedulian. Sehingga dapat dimaknai bahwa CSR adalah sebagai bentuk kegiatan untuk
meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat melalui peningkatan kemampuan
manusia sebagai individu untuk beradaptasi dengan keadaan sosial yang ada,
menikmati, memanfaatkan, dan memelihara lingkungan hidup yang ada. CSR
merupakan salah satu wujud partisipapsi dunia usaha dalam pembangunan
berkelanjutan untuk mengembangkan program kepedulian perusahaan kepada
masyarakat sekitar melalui penciptaan dan pemeliharaan keseimbangan antara
mencetak keuntungan, fungsi-fungsi sosial, dan pemeliharaan lingkungan hidup.
Dengan perkataan lain, CSR dikembangkan dengan koridor Tri Bottom Line yang
mencakup sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Ketiga aspek itu
akan menjadi pilihan perusahaan.
Pertanyaan yang muncul adalah
dimana prioritas perhatian dan pertanyaan selanjutnya pada area mana
akan memulai. Area rintisan untuk memulai
dapat mempertimbangkan, radius
kerja perusahaan dengan produk yang dihasilkan (bila produk/jasa) tersebut
menyangkut konsumen yang lebih umum atau
keikut sertaan dalam penanganan isyu nasional (kesehatan, lingkungan dll).
Paling tidak
perusahaan harus menetapkan pilihannya, seperti:
1. Community and Broader Society. Mayoritas perusahaan
memiliki aktivitas dalam area ini, salah satunya adalah melalui pemberdayaan
masyarakat yang intinya adalah bagaimana individu, kelompok atau komunitas
berusaha mengontrol kehidupan mereka sendiri dan mengusahakan untuk membentuk
masa depan sesuai dengan keinginan mereka. Implementasi pemberdayaan masyarakat
melalui:
·
proyek-proyek
pembangunan yang memungkinkan anggota masyarakat memperoleh dukungan dalam memenuhi kebutuhan.
·
kampanye dan aksi
sosial yang memungkinkan kebutuhan-kebutuhan tersebut dapat dipenuhi oleh
pihak-pihak lain yang bertanggung jawab.
2. Environtment Programs. Program yang berkaitan dengan
pemeliharaan lingkungan misalnya dengan menghasilkan produk yang aman, tidak
berbahaya bagi kesehatan, dan ramah lingkungan; membuat sumur resapan; dan
penyaluran limbah dengan baik.
3. Ikut menyumbang untuk kegiatan yang sifat nya
“musibah”, gempa, banjir, dan persoalan
lan yang bersifat parsial dan insidental
Tahapan
Pengembangan CSR
memerlukan tahapan yang runtun. Tahap pertama, dimulai dengan upaya melihat dan
menilai kebutuhan masyarakat dengan cara mengidentifikasi masalah yang terjadi
dan mencari solusi yang tepat. Tahap kedua, perlu dibuat rencana aksi beserta
anggaran, jadwal, indikator evaluasi, dan sumber daya yang diperlukan bagi
perusahaan. Tahap ketiga, melakukan monitoring kegiatan melalui kunjungan
langsung atau melalui survey. Tahap keempat, melakukan evaluasi secara regular
dan melakukan pelaporan untuk dijadikan panduan strategi dan pengembangan
program selanjutnya. Evaluasi dilakukan pula dengan membandingkan hasil
evaluasi dari internal perusahaan dan eksternal perusahaan, khususnya
masyarakat itu sendiri.
Ketiga tahapan itu,
dengan keterbatasan perusahaan, dapat dilakukan dengan mengajak “mitra yang
berpengalaman”. Sehingga kepedulian tidak menjadi bumerang, menjadikan
masyarakat sebagai penadah bantuan.
Berikan kail, jangan
berikan ikan, tidaklah cukup. Pengalaman berbagai program CSR dan juga pemerinah yang memberikan kail dan umpan plus
pembekalan, ternyata berakibat fatal. Umumnya kail dan umpan yang diterima, dalam
beberapa hari, telah ditukar dengan uang. Atau kail dan umpan, yang diterima
mereka ‘tidur-kan” bertumpuk di sudut rumah, tanpa dimanfaat kan. Hanya
sebagian masyarakat yang mendayagunakan kail dengan umpan nya sebagai “tool” untuk memperbaiki diri dan
keluarga.
Kiat Kunci
Berpijak pada
pengalaman lapangan dan keberhasilan CSR, patut dilihat beberapa kiat kunci
sebelum memulai kiprah perusahaan melalui CSR;
· Kesamaan
pandangan perusahaan dalam konsep CSR dan implementasinya. Jangan sampai
terjadi CEO perusahaan dengan kepedulian nya terlalu baik hati, sehingga muncul
ungkapan yang kurang mendukung di lapangan, seperti obral “janji” ,
sehingga “keswadayaan” dan
“keberlanjutan” kepedulian terabaikan.
· Penentuan titik
mulai, baik aspek perhatian ataupun lokasi, sebuah persiapan yang cukup rumit.
Tidak hanya kepentingan perusahaan, kebijakan Pemerintah dan kepentingan
“politik” akan muncul. Pemahaman aspek yang akan digeluti di lokasi yang
ditentukan, akan menjadi kunci keberhasilan atau kegagalan program CSR.
· Berbagai program
CSR yang berhasil adalah karena kejelian dalam poin kedua diatas. Lebih panting
lagi, memulai dengan kegiatan skala kecil, akan mengurangi resiko adanya
ketergantungan masyarakat pada perusahaan. Kegiatan kecil yang berhasil, dapat
bergulir dengan kegiatan lain, pengembangan yang telah ada atau krgiatan baru.
· Intervensi
financial dengan non financial yang proporsional. Dukungan pendanaan atau
penyediaan fasilitas yang diberikan selalu disertai dengan penyadaran dan
pembekalan kemampuan manajerial. Penyadaran dan pembekalan lebih intensif
diawal program dan selanjutnya sesuai dengan kebutuhan setiap tahap pelaksanaan
program itu sendiri.
·
Demikian banyak
program yang beriorientasi pada masyarakat kecil dari pemerintah dan juga
perusahaan. Upaya untuk mengaitkan kepedulian perusahaan, terhadap ”on going program”, memerlukan telaah yang
dalam dan hati-hati. Terutama tentang pemetaan intervensi dan sumber nya, pada
bahagian mana perusahaan berperan dengan CSR nya.
·
Penemuan
“relawan” dengan hati luhur di tengah masyarakat tidak mudah. Kader “relawan”
akan terseleksi dalam proses pembekalan pada mereka, keikut sertaan dalam
proses dan peran-peran yang “nir” muatan kepentingan, baik “politik,
kepentingan atau atas nama wong cilik”, dll
· Dukungan perusahaan
dalam keempat tahapan (identifikasi kebutuhan, perencanaan, pengaggaran dan
monev) memerlukan “perpanjangan tangan”, yakni para pemberdaya masyarakat yang
berpengalaman. Pemberdaya masyarakat
menjadi fasilitator program yang independen, ke masyarakat dengan “kemasan
kemandirian” ke perusahaan “kritisi kebijakan”.
Kepada pemerintah dan mitra lain akan berperan sebagai “connecting”.
Alternatif
Dengan kiat kunci itu, beberapa pilihan program dapat menjadi agenda
perusahaan untuk dikaji ulang lebih jauh untuk diperioritaskan melalui
rangkaian kunjungan, dialog dengan masyarakat, relawan serta mitra, seperti:
- Pengembangan
embrio dari arisan kakus, arisan rumah yang berlangsung
- Peningkatan
embrio “arisan”, tabungan sosial”, menjadi sebuah Lembaga Keuangan Masyarakat
- Pengembangan
inisiatif lokal dalam pembibitan tanaman, budidaya perikanan dan kreasi
tekhnologi tepat guna.
- Penataan
lingkungan (air, jalan setapak, irigasi, sampah) dengan basis budaya setempat
yang dapat diperkuat.
- Pengembangan
Lembaga Pendidikan Khusus, untuk dhuafa, penddidikan dasar, integrasi budaya
dll,
- Pengembangan
usaha kecil menengah dengan potensi sumber
alam setempat
(Jalarta, Nopember 2014, H Muchtar Bahar)